Reinkarnasi

Jam maupun kalender adalah benda-benda yang tidak mungkin tidak dimiliki oleh manusia modern. Kini, jam maupun kalender banyak jenisnya, ada yang digital dan juga virtual serta yang online. Lalu, apa hubungannya dengan reinkarnasi?

Jam maupun kalender adalah alat penunjuk siklus atau perputaran, di sini adalah perputaran waktu. Waktu, tidak dipakai dengan konsep jalan lurus, tetapi jalan bersiklus.

Contoh konsep lurus yang tidak mungkin dipakai dalam satun waktu:

Pukul atau tanggal:

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 …

Tidak mungkin angka-angka waktu diteruskan sampai menunjukkan Pukul 9999.00 WITA atau tanggal 987. Ia dibuat menjadi laju siklus yang terus berjalan berupa siklus detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Waktu itu bersifat kekal, ia tidak terbatas.

Hal inilah yang menjadi dasar konsep reinkarnasi. Perjalanan kita, tidak berakhir pada suatu tepi saja. Mulai dari kelahiran, hidup dan kematian yang tidak akan berakhir pada surga atau neraka, setelah itu tidak ada hal lagi. Tidak ada kehidupan lagi. Tuhan yang begitu maha pengasih, masih memberikan kesempatan untuk kita dalam menjadi orang yang Dharma. Ketika kita mati, namun masih bersifat keduniawian atau terikat dunia, maka kita akan terlahir kembali sesuai perbuatan yang telah kita lakukan di masa lampau. Kelahiran ulang atau reinkarnasi adalah jawaban bilamana kita bingung mengenai keadaan hidup. Jika memang kita semua lahir sebanyak satu kali, mengapa Tuhan menciptakan keadaan manusia yang berbeda-beda? Entah kaya, miskin, sehat, normal, cacat atau apapun. Jelas terlihat bahwa manusia menjalani kehidupan sekali ini dengan ketidak adilan. Ada yang begini dan ada yang begitu, ada yang bisa melewati dan ada yang tidak bisa melewati dengan baik. Jadi, reinkarnasi memberi jawaban bahwa kita terlahir ulang guna menikmati pahala atas kebaikan kita masa lampau atau menjalani hukuman atas kejahatan atau keburukan masa lampau. Setiap orang melakukan hal yang berbeda-beda, jenis dan jumlah kebaikan yang berbeda. Perbedaan perbuatan, pikiran serta ucapan inilah yang mempengaruhi keadaan kita sehingga kita masing-masing memiliki keadaan yang berbeda-beda.

Reinkarnasi disebut dengan istilah samsara, samsara adalah hal yang pasti terjadi di dunia material ini. Namun, ketika kita telah dapat melampaui segala ikatan dunia, maka kita tidak akan terakhir kembali. Kita akan tinggal di dunia rohani yang penuh cinta kasih dan kebahagiaan kekal, kebahagiaan yang sesungguhnya.

Namun, ada pertanyaan rasional mengenai jumlah penduduk dunia yang kian bertambah. Jika memang reinkarnasi itu benar adanya, mengapa jumlah penduduk meningkat di dunia? Jawabannya sederhana, Padma Purana menyebutkan ada 8.400.000 jenis makhluk hidup di dunia. Mulai dari kuman, serangga, rumput, anjing, sapi, singa, gajah hingga manusia. Kita, sesuai perbuatan, pikiran dan ucapan kita, dapat lahir dengan bentuk badan salah satu di antara 8.400.000 jenis makhluk hidup tersebut. Adakah yang pernah menghitung jumlah hewan atau tumbuhan di dunia ini? Tentu tidak ada. Pertambahan jumlah penduduk adalah karena jiwa dari hewan atau tumbuhan mengalami peningkatan dengan hidup dalam badan manusia.

Kitab Sarrasamuccaya menyebutkan, mendapat badan manusia adalah kesempatan terbaik dalam mencapai pencerahan sehingga kita tidak lagi mengalami kelahiran ulang atau reinkarnasi. Hanya dengan badan manusialah kita dapat belajar tentang jati diri dan keinsafan diri. Jadi, mari sama-sama merpergunakan kesempatan menjadi manusia ini sebaik-baiknya.

2 Balasan ke Reinkarnasi

  1. budi berkata:

    disana dikatakan manusia akan dapat mencapai moksa jika selama hidupnya didunia melakukan perbuatan baik,
    hewan dan tumbuhan juga mengalami reinkarnasi menjadi manusia sehingga pertumbuhan penduduk didunia menjadi padat, yang saya tanyakan apakah tmbuhan dan hewan harus reinkarnasi menjadi menusia dulu, untuk memperbaiki dirinya ataukah dapat langsung mencapai moksa layaknya manusia yang pantas mendapat moksa, jika ia dapatkah kita melihat ciri-ciri atau sifat hewan dan tumbuhan itu akan mencapai moksa.. tanks, jika tidak apa yang harus dilakukan para hewan dan tumbuhan itu untuk mencapaiNYA…

    • Zaman terbagi menjadi empat yang disebut Catur Yuga, setiap zaman, kualitas manusia berbeda-beda, semakin waktu berjalan maka kualitas manusia semakin merosot. Saat ini adalah zaman yang paling merosot yang disebut Kali Yuga, The Age of Chaos, zaman kekacauan atau zaman besi. Nah, para brahmana pada yuga-yuga sebelumnya memiliki kemampuan untuk meningkatkan derajat hewan. Dengan pelafalan mantra-mantra Veda, brahmana zaman dulu dapat membawa atman dari hewan menuju hal yang lebih baik, misalnya menuju surga atau alam moksa. Tetapi, zaman sekarang kualitas brahmana menurun sehingga kurban hewan tidak pantas dilakukan di zaman Kali ini. Jadi, hewan dan tumbuhan setelah mendapat badan manusia barulah bisa memenuhi kebutuhan spiritual untuk mencapai pembebasan atau moksa.
      Srimad bhagavatam 12.3.52:
      “krte yad dhyayato visnum
      tretayam yajhato makhaih
      dvapare paricaryayam
      kalav tad hari-kirtanat”

      (Hasil manapun yang diperoleh pada zaman Krta (Satya) dengan cara semadi kepada Visnu, pada zaman Treta dengan cara menghaturkan korban-korban suci, dan pada zaman Dvapara dengan melayani kaki padma Tuhan (pemujaan kepada Arca), dapat juga diperoleh pada Kali-Yuga ini dengan cara mengucapkan nama suci Tuhan Sri hari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s