Pahala

Hanya memberi… Tak harap kembali… Bagaikan surya… Menyinari dunia…”

Lirik di atas sudah tidak asing lagi bagi setiap pembaca, terutama WNI. Adalah potongan lirik dari lagu yang kalau tidak salah berjudul Kasih Ibu. Apa yang dapat kita petik dari potongan lirik tersebut? Iya, ibu itu bagaikan sang surya (Dewa Surya adalah dewa matahari dalam agama Hindu) atau matahari memberikan sinarnya dengan cuma-cuma dan tanpa pilih kasih. Ia tidak lebih memilih menyinari bunga teratai dibanding lumpur. Apa pun yang bebas dari teduhan, pasti diterpa oleh sinarnya yang hangat.

Dalam hal ini, kita belajar hendaknya menjadi orang yang tulus. Dalam ajaran Veda, kita hendaknya melaksanakan yajña atau korban suci yang tulus, kalau dipanjang lebarkan menjadi korban suci yang tulus ikhlas tanpa pamrih. Kepada siapakah pengorbanan yang tulus ditujukan? Ada berbagai macam dan salah satunya adalah kepada Tuhan.

Pahala, adalah sebuah kata yang berasal dari kata Sanskerta ‘phala’ yang berarti buah atau hasil. Jadi, ketika kita berbuat atau berkarma, maka kita pasti akan mendapat karma phala. Karma phala ada dua jenis, yakni berkah atau pahala, serta hukuman. Itu tergantung apakah kita berbuat baik dan benar atau berbuat buruk dan salah.

Bhakti, salah satu jalan menuju Tuhan adalah bentuk penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan dalam cinta kasih kepada Beliau. Tampaknya, hal ini tidak sepenuhnya dapat kita jalankan. Kita tentu masih mengharapkan hasil yang kita sebut sebagai pahala. Di samping pahala, bhakti kepada Tuhan bahkan dijadikan sebagai sarana dalam meningkatkan gengsi dalam kehidupan masyarakat. Misalkan, membandingkan jumlah dana punia (sumbangan), membandingkan ukuran upakara dan juga membandingkan kemampuan dalam melaksanakan brata, baik upawasa (berpuasa) atau yang lainnya. Apa kata Tuhan akan hal ini?

Bhagavad Gita 17.5-6:

Orang yang menjalani pertapaan dan kesederhanaan yang keras yang

tidak dianjurkan dalam Kitab Suci, dan melakukan kegiatan itu karena

rasa bangga dan keakuan palsu didorong oleh nafsu dan ikatan,

yang bersifat bodoh dan menyiksa unsur-unsur material di dalam badan

dan Roh Yang Utama yang bersemayam di dalam badan, dikenal

sebagai orang jahat.

Bhagavad Gita 17.18:

Pertapaan yang dilakukan berdasarkan rasa bangga untuk memperoleh

pujian, penghormatan dan pujian disebut pertapaan dalam sifat

nafsu. Pertapaan itu tidak mantap atau kekal.

Pertapaan yang bodoh, Bhagavad Gita 17.19:

Pertapaan yang dilakukan berdasarkan kebodohan, dan dengan menyiksa

diri atau menghancurkan atau menyakiti orang lain dikatakan

sebagai pertapaan dalam sifat kebodohan.

Saya teringat cerita ayah saya, ia mengatakan ada seorang temannya mengatakakan bahwa dirinya tidak pernah menuntut pahala saat bersembahyang. Bisa jadi dia tidak pernah melakukan Tri Sandhya. Karena dalam bait-bait Tri Sandhya masih ada berbagai permohonan. Tetapi, orang yang telah murni dalam bhakti kepada Tuhan, ia tidak akan memohon pahala. Seseorang yang murni seperti ini terbebas dari pahala, melainkan ia semakin ingin menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini, kebebasan dari pahala dapat ditemukan dalam Maha Mantra pada kitab Kalisantarana Upanishad:

Hare Kṛṣṇa Hare Kṛṣṇa Kṛṣṇa Kṛṣṇa Hare Hare

Hare Rāma Hare Rāma Rāma Rāma Hare Hare

O Tuhan, O Tenaga Sakti Tuhan semoga hamba selalu disibukkan dalam kebhaktian kepada Anda.

Dari Maha Mantra tersebut, kita tidak menemukan permohonan pahala. Melainkan berharap agar dapat terus sibuk dalam bhakti kepada Tuhan. Sungguh penyembah yang murni. Untuk apa mencari pahala sebanyak-banyaknya? Jangan biarkan yajña atau perngorbanan ternodai untuk menuntut pahala secara berlebih. Sudahkah Anda tulus? Saya pribadi mengakui, saya belum sesempurna itu. Jadi, mari kita bersama-sama tidak usah berlomba-lomba hanya untuk mengerjar pahala, melainkan hanya untuk berbhakti kepada Tuhan dengan cinta kasih yang murni tanpa noda. Hare Kṛṣṇa!

Seperti inilah orang yang terbebas dari keterikatan akan pahala atau hasil:

Bhagavad Gita 4.22:

Orang yang puas dengan keuntungan yang datang dengan sendirinya,

bebas dari hal-hal relatif, tidak iri hati, dan mantap baik dalam SUKSES

maupun KEGAGALAN, tidak pernah terikat, walaupun ia melakukan

perbuatan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s