Aku

Banyak orang mengidentifikasi dirinya seperti berikut:

  • Saya orang yang cantik.
  • Saya orang yang tampan.
  • Saya orang yang tinggi.
  • Saya orang yang berkulit putih.
  • Saya orang yang langsing.
  • Dan sebagainya.

Seseorang yang tidak berdasarkan pengetahuan sejati akan mengidentifikasi diri berdasar apa yang dia lihat dari segi fisiknya. Ia merasa, keadaan fisik adalah segala-galanya. Bahkan seseorang lebih mementingkan penampilan fisik dibanding yang lain. Intinya, seseorang mengidentifikasi dengan badan material atau badan jasmaninya.

Tetapi, orang yang berdasarkan pengetahuan sejati, akan mengerti bahwa dirinya, ‘AKU’ adalah yang berada dalam badan material ini. Aku menghidupi badan yang cantik/tampan/langsing/tinggi ini. Tanpa aku, badan ini hanyalah benda mati yang tak berguna. Aku adalah atman aku adalah sang roh yang merupakan bagian terkecil dari Tuhan. Sang roh tidak bisa mati atau pun luka serta basah, tidak dapat terbakar maupun dimusnahkan.

Bhagavad Gita 2.13:

dehino ‘smin yathā dehe kaumāraṁ yauvanaṁ jarā

tathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyati

Seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan terus menerus

mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak

sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke

dalam badan lain pada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak

bingung karena penggantian itu.

Bhagavad Gita 2.16:

nāsato vidyate bhāvo nābhāvo vidyate sataḥ

ubhayor api dṛṣṭo ‘ntas tv anayos tattva-darśibhiḥ

Orang yang melihat kebenaran sudah menarik kesimpulan bahwa apa

yang tidak ada [badan jasmani] tidak tahan lama dan yang kekal

[sang roh] tidak berubah. Inilah kesimpulan mereka setelah mempelajari

sifat kedua-duanya.

Bhagavad Gita 2.17:

avināśi tu tad viddhi yena sarvam idaṁ tatam

vināśam avyayasyāsya na kaścit kartum arhati

Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang ada dalam seluruh

badan tidak dapat dimusnahkan. Tidak seorangpun dapat membinasakan

sang roh yang tidak dapat dimusnahkan itu.

Bhagavad Gita 2.20:

na jāyate mriyate vā kadācin

nāyaṁ bhūtvā bhavitā vā na bhūyaḥ

ajo nityaḥ śāśvato ‘yaṁ purāṇo

na hanyate hanyamāne śarīre

Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun.

Dia tidak diciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada

masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan

datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat

abadi. Dia tidak terbunuh apabila badan dibunuh.

Bhagavad Gita 2.21:

vedāvināśinaṁ nityaṁ ya enam ajam avyayam

kathaṁ sa puruṣaḥ pārtha kaṁ ghātayati hanti kam

Wahai Pārtha, bagaimana mungkin orang yang mengetahui bahwa

sang roh tidak dapat dimusnahkan, bersifat kekal, tidak dilahirkan

dan tidak pernah berubah dapat membunuh seseorang atau menyebabkan

seseorang membunuh?

Bhagavad Gita 2.22:

vāsāṁsi jīrṇāni yathā vihāya

navāni gṛhṇāti naro ‘parāṇi

tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇāny

anyāni saṁyāti navāni dehī

Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka

pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani

yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak

berguna.

Bhagavad Gita 2.23:

nainaṁ chindanti śastrāṇi nainaṁ dahati pāvakaḥ

na cainaṁ kledayanty āpo na śoṣayati mārutaḥ

Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh

senjata manapun, dibakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan

oleh angin.

Bhagavad Gita 2.24:

acchedyo ‘yam adāhyo ‘yam akledyo ‘śoṣya eva ca

nityaḥ sarva-gataḥ sthāṇur acalo ‘yaṁ sanātanaḥ

Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan,

dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya,

berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan

dan tetap sama untuk selamanya.

Bhagavad Gita 2.25:

avyakto ‘yam acintyo ‘yam avikāryo ‘yam ucyate

tasmād evaṁ viditvainaṁ nānuśocitum arhasi

Dikatakan bahwa sang roh itu tidak dapat dilihat, tidak dapat dipahami

dan tidak dapat diubah. Mengingat kenyataan itu, hendaknya

engkau jangan menyesal karena badan.

Bhagavad Gita 2.27:

jātasya hi dhruvo mṛtyur dhruvaṁ janma mṛtasya ca

tasmād aparihārye ‘rthe na tvaṁ śocitum arhasi

Orang yang sudah dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian,

seseorang pasti akan dilahirkan lagi. Karena itu, dalam melaksanakan

tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya

engkau jangan menyesal.

Bhagavad Gita 2.28:

avyaktādīni bhūtāni vyakta-madhyāni bhārata

avyakta-nidhanāny eva tatra kā paridevanā

Semua makhluk yang diciptakan tidak terwujud pada awalnya, terwujud

pada pertengahan, dan sekali lagi tidak terwujud pada waktu

dileburkan. Jadi apa yang perlu disesalkan?

Bhagavad Gita 2.29:

āścarya-vat paśyati kaścid enam

āścarya-vad vadati tathaiva cānyaḥ

āścarya-vac cainam anyaḥ śṛṇoti

śrutvāpy enaṁ veda na caiva kaścit

Beberapa orang memandang bahwa sang roh sebagai sesuatu yang

mengherankan, beberapa orang menguraikan dia sebagai sesuatu

yang mengherankan, dan beberapa orang mendengar tentang dia

sebagai sesuatu yang mengherankan juga, sedangkan orang lain tidak

dapat mengerti sama sekali tentang sang roh, walaupun mereka

sudah mendengar tentang dia.

Demikianlah penjelasan mengenai identitas kita yang sebenarnya. Semoga dapat dipahami.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s