Untuk Apa Meratapi Keadaan? Lebih Baik Introspeksi Diri – Why Mourning Condition? It’s Better Self Introspection

Mungkin kita pernah atau sering atau mungkin selalu meratapi suatu keadaan diri kita yang tidak kita sukai. Entah itu keadaan cacat, atau ketidak mampuan yang lain. Hingga kita larut dalam kesedihan. Bahkan kita juga mendapati sesuatu yang menurut kita tidak mungkin terjadi. Misalnya, seorang tetap miskin setelah ia bekerja keras, seseorang terlahir cacat dalam keluarga yang normal, seseorang mendapat kecelakaan meski ia telah berhati-hati, dan lain sebagainya. Memang ada sebagian besar orang yang mampu menghadapi itu semua hingga ia berhasil menggapai cita-citanya. Apakah Anda pernah berpikir bahwa kelak anak Anda atau orang lain mengalami suatu kesedihan? Dan tentunya Anda tidak ingin menghadapi hal buruk lagi di masa mendatang, betul’kan?

    Jika hal-hal buruk merupakan suatu ujian di mana seseorang tidak dapat menghadapi ujian tersebut hingga akhir ayat, masihkah itu dianggap ujian? Tentu tidak, jika memang segala hal buruk yang kita alami adalah ujian dari Sang Pencipta, betapa Tuhan pilih kasih dengan memberikan ujian yang berbeda-beda, ada yang mudah dilewati dan ada yang sulit dilewati. Semua hal, baik kebaikan maupun keburukan adalah hasil atas apa yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. Jika Anda berbuat baik, maka otomatis Anda akan mendapat kebaikan, dan jika Anda berbuat kejahatan, maka Anda akan mendapat suatu keburukan.

    Ketahuilah, masa depan ada di tangan kita. Kitalah yang menentukan apa yang akan kita alami di masa mendatang. Hukum karma adalah hukum alam yang tidak bisa ditawar oleh siapapun dan dengan cara apapun. Berbuat baik tidak hanya kepada sesama, terlebih lagi ke sesama golongan. Melainkan terhadap seluruh makhluk hidup di dunia.

    Atau pernahkah Anda melihat seekor hewan yang malang? Misalnya seekor anjing yang terluka karena dilempari atau ditabrak atau terkena suatu penyakit? Keadaan itu, menjadi seekor anjing yang malang, dapat kita alami jika kita berperilaku seperti hewan terhadap makhluk hidup yang lain. Jika kita merendahkah diri dengan berbuat yang sangat kejam dan jahat terhadap orang tak berdosa, memperlakukan seseorang sebagai budak yang tidak ada harganya, maka dipastikan kita akan mendapat badan anjing sebagai tempat tinggal kita di kelahiran berikutnya. Seekor anjing yang malang, ia sedang mendapatkan hasil atas apa yang ia pikirkan, ucapkan dan lakukan di kehidupannya yang lampau.

    Hukum karma ini, tentunya menuntun kita untuk selalu mengintrospeksi diri atas dosa-dosa di masa lampau. Seseorang yang paham akan hukum karma, ketika ia mengalami suatu keburukan, maka ia akan langsung berpikir, “dosa apa yang pernah saya lakukan di masa lampau sampai saya mengalami hal buruk seperti ini?”. Pemahaman akan hukum karma seperti ini juga menuntun kita untuk enggan, enggan dan enggan untuk berpikir buruk, berkata buruk dan berperilaku buruk.

    Bilamana suatu pemerintahan, mengizinkan seseorang untuk membunuh seseorang yang lain dengan jaminan tidak tersentuh hukum, tentunya orang tersebut tidak segan melakukan tindak kriminal. Begitu pula, ketika suatu pribadi menjanjikan dosa kita untuk ditebus atau dihapus, untuk apa takut berbuat dosa? Karena toh juga dosa kita dapat dihapus. Terjamin bahwa, keyakinan tinggi akan penebusan atau penghapusan dosa ini akan membuat kita tidak segan dalam berbuat hal-hal yang negatif. Seperti kenyataan yang dapat kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Bila seorang guru menjanjikan untuk memberi nilai 10 pada ujian Anda, apa yang akan Anda lakukan? Anda tidak akan belajar.

    Pernahkah Anda merasa kasihan melihat seekor anjing yang malang seperti tadi? Atau melihat seekor ulat tak berdaya yang gepeng karena terinjak? Atau mungkin rumah semut yang terlanda air selokan? Jika Anda menjadi seekor semut itu, apa yang Anda rasakan? Sudahkah kita berpikir, berkata dan berbuat baik dan benar?

Dipublikasi di Introspeksi Diri | Tag , , , , , , , , , , , | 2 Komentar